Pelajaran cinta buat adikku – 3

Sepasang bukit dadanya yang padat mengusap dadaku, pahanya dibuka dan menjepit kedua pahaku sehingga batang kemaluanku bergesekan dengan ketat dengan belahan vaginanya. Kami berciuman dengan rakusnya, lidah kami saling belit dan saling sentuh.
Tubuh Crissy kembali bergetar dan mengejang, gadis ini begitu cepatnya kembali mencapai orgasme. Kurasakan cairan vaginanya yang hangat mengalir kebawah membasahi kantung kemihku.

“Crissy aku tidak bisa lagi menahannya berlama-lama.”
“Aku juga Bobby, aku segera ingin menikmati milikmu sepenuhnya, ayo masukkan Bobby.”
“Crissy, ini mungkin agak sakit untuk pertama kali. Kamu benar-benar sudah siap?”
“Ya tentu saja, aku wanita. Setiap wanita pasti tahu tentang itu dan aku sudah siap. Meskipun itu sakit tapi aku yakin kamu akan memberikan yang paling baik buatku, lebih baik daripada laki-laki lainnya. Katakan kepadaku apa yang sebaiknya aku lakukan, bagaimana posisiku? Aku terlentang kemudian kau melakukannya? Mungkin itu paling baik buatmu?”

“Tidak, tetap posisi seperti ini saja. Ini adalah cara terbaik buatmu untuk pertama kali,” kataku, “Bertumpulah pada lututmu sehingga penisku tepat dibawah liang vaginamu. Kemudian turunkan pelan-pelan pinggulmu sampai kau merasa ujung penisku masuk ke liang vaginamu. Bila merasa sakit stop dulu beberapa saat sampai liangmu yang kecil itu mengembang menyesuaikan diri, kemudian turunkan lagi agar masuk lebih dalam. Begitu seterusnya sampai semua batang penisku masuk seutuhnya.”

Crissy menciumku dengan mesra sambil berbisik, “Itulah yang aku mau, aku ingin pertama kali denganmu, kamu pemuda yang baik, aku tahu kamu akan sangat memperhatikan aku dan memberikan aku yang terbaik.”

Crissy kemudian duduk bertumpu dengan lututnya, tangannya meraih batang penisku dan menempatkan ujungnya tepat dimulut liang vaginanya yang kecil itu. Dan sambil saling bertatapan mata, Crissy pelahan-lahan menurunkan pinggulnya menduduki penisku yang berdiri tegak.

Aku memandangi bola mata Crissy tanpa berkedip. Kulihat Crissy konsentrasi sepenuhnya. Perasaan kami sangat tegang menantikan saat-saat yang paling bersejarah buat kami berdua. Kurasakan ujung penisku mulai menyeruak masuk ke liang vagina Crissy. Terasa sempit menjepit, dan hangat. Crissy menghentikan tekanannya sambil menarik napas dalam-dalam, kemudian menekan lagi kebawah. Kulihat alis mata Crissy agak mengernyit kesakitan, tapi tetap menekan terus kebawah…

“Aahhh…” desah Crissy ketika ujung topi bajaku melesak masuk ke dalam liang kecil itu.

Untuk beberapa saat kembali Crissy menghentikan gerakannya. Wajahnya merah menahan sakit. Aku juga merasa ngilu dan nikmat luar biasa ketika ujung kemaluanku dijepit kuat-kuat.

“Sakit sayang, stop dulu jangan dipaksa,” kataku sambil mengelus-elus bukit dadanya.

Crissy menggelengkan kepala sambil senahan sakit, tapi bibirnya berusaha tersenyum. Kemudian menekan lagi agak keras dan…

“Ohh..,” erang Crissy ketika ujung kemaluanku terasa membentur semacam penghalang disana.
“Stop dulu sayang, itu adalah selaput perawanmu,” kataku, “Agak sakit disini.”
Crissy cuman mengangguk kecil. Kulihat air matanya mengambang disana. Beberapa kali Crissy mengambil napas dalam-dalam, kemudian menekan kuat-kuat…
“Aduhh… Ahhh, kak,” jerit Crissy agak keras. Kurasakan ujung kemaluanku melesak sampai separuhnya menembus selaput keperawanannya.

Tubuh Crissy roboh diatas dadaku. Samar-samar kudengar isak tangisnya. Aku sangat terharu… Ya, hari ini aku telah memecah keperawanan adikku sendiri. Aku nggak bisa mengucapkan kata-kata, hanya kubelai-belai rambutnya. Sesaat kemudian Crissy mencium bibirku sambil berbisik,

“Aku sudah berhasil kak.” Kulihat air matanya mengalir dipipinya, tapi wajahnya riang dan berbinar-binar. Kamipun berpelukan dengan mesra.
“Ayo Crissy, kita tuntaskan sekalian,” bisikku, “Sekarang nggak usah ngotot, kita goyangkan saya pelan-pelan sambil ditekan sedikit-sedik, nanti akan masuk sendiri.”

Sesaat kemudian Crissy menggerakkan pinggulnya pelan-pelan sambil menekan. Aku juga merusaha mengimbangi gerakannya sambil membelai-belai punggung dan pinggulnya. Kembali keduanya tenggelam ke dalam buaian kenikmatan lautan birahi.

Sedikit-demi sedikit batang kemaluan Bobby menyeruak masuk ke dalam liang vagina Crissy yang kecil itu. Tampaknya Crissy tidak mengalami kesakitan seperti tadi, meskipun desahan dan rintihan masih keluar dari bibir Crissy, tapi bukan karena sakit melainkan lebih banyak karena kenikmatan yang dirasakannya. Akhirnya tanpa mereka sadari seluruh batang kemaluan Bobby tenggelam sepenuhnya ke dalam liang vagina Crissy. Kini tubuh mereka sepenuhnya saling berhimpit dan merapat. Tidak ada lagi celah-celah ruang yang memisahkan tubuh keduanya.

“Ohh…” desah Crissy sambil menekan bukit dadanya kedada Bobby. Puttingnya yang sudah mengeras bagai kerikil itu terasa menggaruk-garuk dada bidang kakaknya. Bibir mereka saling menghisap sambil lidahnya saling membelai. Crissy kemudian berbisik ditelinga kakaknya,

“Bobby, penismu sudah masuk semuanya. Begitu penuh dan sesak, sepertinya nggak ada lagi ruang yang tersisa disana, Oh Bobby, memang sakit sekali tadi waktu masuk, tapi sekarang sepertinya nggak kurasakan lagi, enak sekali Bobby… Begitu nikmatnya.”

Untuk beberapa saat mereka terdiam tanpa berkata-kata, hanya gerakan-gerakan kecil dari pinggul mereka. Pikiran mereka berdua sepertinya sedang dikonsentrasikan kebagian kemaluannya masing-masing dimana perasaan nikmat yang tiada terkatakan sedang mengalir ke seluruh tubuhnya. Kedua mata mereka saling bertatapan, senyuman manis Crissy yang penuh rahasia menghiasi wajahnya yang imut dan cantik sekali. Bobby merasakan betapa ketatnya jepitan liang vagina Crissy. Sehingga dengan sedikit gerakan saja sudah menimbulkan perasaan rasa nikmat luar biasa.

Pinggul Chrissy mulai digerakkan pelahan-lahan turun hampir. Bobby pun mengiringinya dengan gerakan yang seirama. Setiap kali batang penis Bobby tercabut naik sekitar 2 inci, kemudian ditekan lagi ke dalam. Setiap gerakannya menimbulkan sensasi luar biasa karena ketatnya jepitan liang vagina Chrissy pada penis Bobby dan juga karena permukaan kuit bagian tersebut memang paling sensitif. Cairan kewanitaan Chrissy keluar semakin banyak, melumasi dinding liang vagina itu sehingga mengurangi rasa pedih akibat gesekan, sehingga beberapa saat kemudian tidak ada lagi rasa pedih yang dirasakan Chrissy. Yang ada hanyalah sensasi kenikmatan dan kenikmatan, yang membakar seluruh tubuh mereka.

“Ohh Bobby, aku hampir tidak bisa percaya bagaimana nikmatnya ini! inikah surga?!” guman Chrissy.
“Ohh, Bobby, aku tahu ini akan luar biasa, aku tahu kau akan membuat keadaan ini menjadi luar biasa, tapi kenikmatan ini benar-benar jauh diatas yang aku bayangkan,” kata Chrissy sambil meneruskan gerakannya.

Gerakan naik-turun tersebut makin lama semakin panjang, sehingga kemudian hampir seluruh 7 inci batang penis Bobby tercabut semua, dan kemudian ditekan lagi hingga amblas kedasar liang vagina Chrissy. Nafas Chrissy semakin memburu, dan sepertinya mulai agak tersegal-segal. Ini bukan hanya karena beratnya aktivitas yang dia lakukan, tetapi karena dia semakin naik mendekati puncak orgasmenya.

Dorongan gairah Chrissy yang semakin meningkat, dan tiba-tiba terdengar suara ‘poop’ ketika penis Bobby tercabut lepas.

“Ohhh, jangannn!” teriak Chrissy setengah menangis, “Kembalikan cepaaat, kembalikan cepaaat, ooohhh kembalikan kepadaku!”

Kudorong tubuh Chrissy terlentang, kupegang kedua pahanya dan kubuka lebar-lebar sehingga liang vaginanya terpampang jelas dihadapanku. Hatiku berdesir melihat betapa liang itu sudah terbuka sedikit, tidak merapat seperti sebelumnya. Dan dari liang itu tampak memeleh keluar darah segar bercampur cairan vaginanya.

“Ohhh… Darah keperawanan adikku, aku telah mengambil keperawanan adikku sendiri.” Bathinku.

Kutarik pinggul Chrissy sambil kumajukan pinggulku sehingga batang kemaluanku yang tegang mengkilat basah oleh cairan vagiva Chrissy bercampur darah perawannya, menempel tepat di gerbang liang vaginanya. Pelahan kudorong penisku masuk. Meskipun masih cukup sulit karena sempitnya lubang itu, tapi berkat cairan vaginanya yang licin itu penisku bisa kumasukan semua sampai terasa ujung batang penisku menekan kuat dasar liang vagina itu. Chrissy merintih cukup nyaring ketika batang penisku bergesekan ketat dengan dinding liang vaginanya.

“Ohhh, ahhh, Bobby! Terusss… Masukkan ooohhh, ya yaa terusss!”

Aku hampir tidak percaya bahwa lubang kecil itu mampu mengembang sedemikian rupa sehingga batang penisku bisa masuk semuanya. Kemudian kutarik lagi penisku pelahan-lahan sampai separuh bagian dan kutekan kembali sampai amblas ke dasar liang vagina itu, demikian terus menerus kulakukan dengan tempo semakin lama semakin cepat.

Rintihan dan erangan Chrissy semakin keras, tubuhnya menggeliat geliat mengikuti gerakanku sambil pinggulnya terangkat-angkat setiap kali penisku kutarik.

“Ohhh, yes, yes, ohhh, terus, terus… Aaahhh ooohhh.”

Kurasakan puncak orgasmeku sudah semakin dekat. Pikiranku juga melayang-layang. Adikku, adikku tersayang Chrissy, aku sedang ML dengan adikku sendiri, kuperawani adikku yang selama ini kusayang-sayang.

“Ohhh apa yang sedang kulakukan?” bisik hatiku, tapi kenikmatan ini benar-benar teramat sangat luar biasa sehingga aku tak mampu menolaknya… Aku benar-benar tak bisa membayangkan kenikmatan yang seperti ini…

Tiba-tiba aku dikejutkan dengan teriakan Chrissy yang nyaring sambil tangannya mencengkeram punggungku. Tubuhnya bergetar dan mengejang. Sepertinya Chrissy telah mencapai orgasmenya kembali. Liang vaginanya berdenyut-denyut keras seperti meremas-remas penisku. Dan tiba-tiba penisku seperti kontak ikut terpengaruh sehingga batang penisku ikut berdenyut-denyut. Cepat-cepat kutarik keluar batang penisku, dan spermaku langsung menyembur keras keudara berkali-kali, dan jatuh menimpa dada, perut, paha dan bahkan juga berhamburan diatas kasur.

Mata Chrissy melotot menyaksikan semburan spermaku yang begitu dasyat. Gadis itu sampai lupa tentang orgasmenya.

“OHH, seperti itukah kalau pemuda orgasme???” serunya.

Dia usap-usap cairan sperma yang ada didadanya, diperhatikannya dengan seksama cairan putih kental dan lengket itu.

Batang kemaluanku tetap keras dan kencang meskipun telah orgasme, bahkan sepertinya hampir tidak berubah. Sepertinya rangsangan kenikmatan yang kurasakan membuat gairahku begitu tinggi sehingga belum terpuaskan hanya dengan sekali orgasme.

Kembali kupasang penisku digerbang liang vagina Chrissy, gairah Chrissy sepertinya juga tetap tinggi, mungkin setelah melihatku orgasme adikku ini jadi semakin bergairah. Langsung diraihnya leherku diciumi bibirku sambil memelukku erat-erat. Segera kutindih tubuhnya dan penisku kembali amblas ke dalam liang vagina Chrissy dan paha Chrissy juga langsung melingkar dan menjepit pahaku.

Gairahku langsung memuncak kembali, kugerakkan pinggulku naik-turun dengan bersemangat. Chrissy juga menggerakkan pinggulnya kekiri-kekanan mengimbangi gerakanku. Kembali kami berlomba dan saling memacu gairah birahi kami. Napas kamipun ikut berpacu semakin cepat.

Tanganku tak tinggal diam, kugerayangi kemulusan tubuh Chrissy, buah dadanya kuremas-remas dan puttingnya kupilin-pilin, membuat tubuh Chrissy menggeliat-geliah semakin liar dan desahan serta rintihannya semakin nyaring memenuhi ruangan.

Chrissy semakin bersemangat mengimbangi gerakanku. Adikku sepertinya semakin lincah dan pandai melakukan olah gerak seksual. Irama gerakannya semakin padu dengan gerakanku. Pinggulnya kadang-kadang bergerak kekiri-kekanan, tapi kadang-kadang juga berputar-putar atau diangkat-angkat yang pada akhirnya menimbulkan perasaan nikmat yang semakin luar biasa.

Mulutnya tidak hanya mendesis-desis dan mengerang-erang, tapi juga diiringi tangisan dan jeritan-jeritan kecil yang menimbulkan sensasi suara yang bisa membangkitkan bulu roma. Kami terus berpacu dan berpacu dalam alunan nafsu birahi. Kami benar-benar lupa dengan keadaan sekeliling kami, melupakan siapa kami. Yang ada hanyalah kenikmatan dan kasih sayang.

Irama gerakan kami semakin lama semakin cepat, napas kami sudah berpacu seperti lokomotip dan keringat kami sudah membanjiri sekujur tubuh kami. Sampai akhirnya kembali Chrissy menjerit sambil menggigit pundakku, tubuh dan kakinya mengejang dan menjepit kuat-kuat.

“Ooohhh… Aaahhh Bobbyyy… Aku keluar lagi, ooohhh aku keluar lagi.”

Segera kupercepat gerakanku, kurasakan penisku juga sudah berdenyut-denyut, aku ingin keluar bersamanya. Dan satu menit kemudian, ketika denyutan-denyutan liang vagina Chrissy belum lagi hilang, batang kemaluanku berdenyut kuat dan segera kutekan kuat-kuat kedasar liang vagina Chrissy dan spermakupun menyembur kuat beberapa kali. Kembali Chrissy menjerit misteris merasakan semburan spermaku didalam dasar liang vaginanya.

“Ooohhh, BOBBY, OH BOBBY, terus, terusss, ohhh, luar biasa ooohhh, habiskan Bobby, terus, terus ooohhh.”

Aku masih terus menggerakkan pinggulku naik-turun sampai beberapa saat setetah semprotan spermaku berhenti, kemudian tubuhku terkulai lepas diatas tubuh Chrissy. Adikku Chrissy sepertinya juga sudah kehabisan tenaga. Matanya tertutup rapat dengan napas masih tersegal-segal. Penisku masih tertanam di vagina Chrissy.

Beberapa saat kemudia mata Chrissy terbuka, dan kami saling berpandangan tanpa berkata-kata. Diapandangnya wajahku tajam-tajam. Dimata Chrissy aku tetap seperti seorang pahlawan, tapi sekarang ada lagi bayangan lain, sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya. Aku menyadari bahwa tatapan mata Chrissy memancarkan cinta kasih yang begitu mendalam, dan penuh kemesraan. Hatiku berdesir melihat tatapan mata itu. Sorot mata yang tidak pernah kulihat seumur hidupku. Akupun berbisik,

“Chrissy, benar-benar luar biasa, lebih dari yang pernah kubayangkan.”

Chrissy menganguk sambil tersenyum manis sekali. Diraihnya leherku dan kamipun berciuman dengan mesra sekali. Tanpa melepaskan ciumannya, didorongnya tubuhku kesamping, dan kini gantian Chrissy yang menindih tubuhku. Pinggulnya digerakkan naik-turun sehingga celah-celah vaginanya menjepit dan mengesek batang penisku, membuat penisku bangun lagi.

“Oh, Bobby, Bobby, kakakku, kekasihku. Terimakasih Bobby. Terimakasih. Aku yakin ini adalah saat yang paling bersejarah dalam hidupku, paling manis dan paling indah. Terimakasih, kau telah memberikan yang terbaik buatku. Aku sangat menyayangimu Bobby.”

Pinggul bergerak semakin cepat, saling bergesekan dan saling menekan. Penisku sudah kembali tegang dan membesar sepenuhnya. Chrissy menciumi wajahku sambil berbisik,

“Bobby, masih sangat banyak yang harus kau ajarkan tentang sex. Akhir pekan ini semuanya untuk kita. Maukan kau ajari aku lebih jauh tentang sex?”

Ya tentu saja aku tidak akan menolak permintaannya. Kuhabiskan malam panjang ini diatas ranjang bersama Chrissy. Kuceritakan semua yang aku ketahui tentang sex, tapi yang terutama adalah mempraktekannya bersama. Akupun juga banyak belajar dari dia. Malam itu benar-benar menjadi milik kami berdua.

E N D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s