Malapetaka KKN – Gadis persembahan – 1

Fanny adalah gadis yang paling cantik dari seluruh gadis yang ikut dalam rombongan KKN itu. Tubuhnya tinggi semampai dan padat berisi, tinggi badannya yang hampir 170 cm membuatnya tampak begitu jangkung diantara rekan-rekannya, masih ditambah bentuk tubuhnya yang begitu indah dan sekal, apalagi kalau dia sedang memakai busana ketat seperti yang biasa dipakainya, membuat bagian-bagian tubuhnya yang vital seperti dada dan pantat terlihat menonjol. Wajahnya bulat dan hidungnya mancung khas orang bule tapi berkulit kuning langsat seperti orang Asia. Hal itu bisa dimengerti karena Fanny berdarah campuran Indonesia dan Italia, sebuah perpaduan Euro Asia yang sangat menarik menghasilkan wajah yang sangat khas. Ditambah lagi rambutnya yang kecoklatan lurus sepunggung dibiarkannya tergerai. Yang paling menarik dari Fanny adalah matanya yang kehijauan. Mata itu begitu bercahaya seperti batu zamrut berkilau.

Pagi itu pondokan tempat Fanny tinggal terlihat begitu sepi, seluruh rekannya sudah berangkat untuk melakukan aktifitas, hanya Fanny yang tinggal di pondokan. Fanny yang hari itu memang tidak ada kegiatan menyibukkan dirinya dengan membaca buku novel yang sengaja dibawanya dari rumah.
Baru saja Fanny membaca beberapa halaman ketika didengarnya ketukan di pintu depan. Fanny yang pagi itu memakai blus putih dengan rambutnya yang berkilau lurus tergerai bebas terlihat lebih cantik dari biasanya. Dia tempak sedikit heran, siapa yang sepagi ini sudah bertandang ke pondokannya. Fanny segera menuju ke depan. Tanpa disangak-sangak, di ruangan depan sudah berkumpul tujuh orang pria setengah baya. Mereka adalah Pak Kades Wirya, Sarta Sekretaris desa, Pak Jamal tuan tanah yang paling kaya di seluruh desa, Pak Hasan jawara kampung, Pak Arman Mantri hutan dan dua orang lagi, yang satu sudah tua, kurus dengan wajah pucat seperti orang sakit dikenalnya sebagai Amar, salah satu sesepuh desa. Yang duduk di sebelah Amar badannya kurus dan jangkung dengan janggut kambing. Fanny tidak tahu nama aslinya, orang desa lebih dering menyebutnya Ki Wongso, orangnya sudah tua sekali, mungkin sudah lebih dari 70 tahun, terlihat dari rambut dan janggutnya yang sudah putih semua dan giginya yang hanya tinggal beberapa gelintir.

Untuk sesaat Fanny merasa ngeri melihat ketujuh orang tua yang duduk di hadapannya itu. Tatapan mata mereka membuat Fanny merasa mereka bisa melihat menembus pakaiannya. Sorot mata mereka seperti sorot mata srigala lapar yang siap menerkam mangsanya.
“Maaf Bapak-bapak.. ada perlu apa ya..?”, tanya Fanny berusaha ramah, meskipun tubuhnya mulai gelisah.
“Eh.. begini Neng.. kami ada perlu dengan Neng Fanny..”, kata Pak Kades dangan nada canggung.
“Dengan saya..?”, Fanny heran. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Eh.. begini Neng Fanny..”, Pak Kades Wirya berujar canggung, dia terlihat gelisah, terlihat dari gerakan-gerakan tangannya yang tidak teratur. “Sebelumnya saya minta maaf karena mengganggu Neng Fanny.”
“Ada apa ya Pak..?”, Agak canggung Fanny menanyakan maksud kedatangan mereka. Mereka tidak langsung menjawab melainkan saling tatap satu sama lain.
“Saya datang ke sini sebetulnya ingin membicarakan masalah desa ini pada Neng Fanny..”, Kata Pak Kades.
“Kalau saya bisa Bantu, saya akan Bantu.”, Fanny menjawab cepat.
“Oh.. ya.. dan memang hanya Neng Fanny saja yang bisa membantu masalah desa ini”, kata Pak Kades dengan mata menatap liar ke arah Fanny, membuat Fanny merasa grogi dan takut.
“Begini Neng, Neng Fanny tentu tahu kan, kalau desa ini memuja Dewi Kesuburan?”, tanya Pak Kades. Fanny hanya mengangguk saja, dia sudah tahu riwayat pemujaan dewi kesuburan ini sejak pertama kali menginjakkan kaki di desa ini.
“Dan apakah Neng Fanny juga tahu kalau setahun sekali Dewi Kesuburan akan turun ke desa ini dalam wujudnya sebagai seorang wanita?”
“Ya.. saya tahu”, kata Fanny sedikit jengkel. “Tapi apa hubungannya semua itu dengan saya?”
“Yah.. Pak Kades menghela nafas sesaat. Perlu Neng Fanny tahu, berdasarkan perhitungan dan ramalan Dukun Desa, Dewi Kesuburan Desa ntuk tahun ini adalah.. Neng Fanny sendiri.”
“Apa? Fanny terkejut sesaat.” Tapi itu tidak mungkin.. dia tidak tahu maksud ucapan Pak Kades. Dia bahkan yakin Pak Kades baru saja bergurau.
“Betul Neng, Amar menyela Neng Fanny lahir tanggal 8 Mei kan..? Dan Neng punya tahi lalat di paha kiri kan? Persis seperti yang sudah diramalkan.”
“Dari mana Bapak tahu?”, Fanny spontan bertanya.
“Itu tidak penting, yang jelas sekarang Neng Fanny telah terpilih sebagai Dewi kesuburan.”, tandasnya lagi.
Fanny terdiam sesaat mencoba menerka maksud pembicaraan Pak Kades dan temannya, tapi dia sama sekali tidak menemukan apa-apa di kepalanya tentang dewi kesuburan ini.
“Baik..”, Fanny mengalah. “Katakan saya bersedia, lalu apa yang harus saya lakukan sebagai Dewi Kesuburan ini?”
Ketujuh orang itu langsung berubah ekspresi dari yang semula sopan mendadak berubah menyeringai memuakkan dan tertawa-tawa aneh begitu mendengar ucapan Fanny barusan.
“Tugas anda.. yah.. Dewi Kesuburan bertugas untuk membagikan kesuburannya pada para penduduk desa. Dewi Kesuburan adalah lambang dari lahan yang siap ditanami oleh petani. Neng Fanny sebagai lahannya dan kami petaninya.”
Seketika Fanny terperanjat mendengar tamsil yang diutarakan barusan. Kesuburan, lahan, petani, menanam benih, semuanya mendadak menjadi begitu jelas bagi Fanny.
“Ma.. maksudnya saya akan dijadikan sebagi persembahan? Begitu?”, Fanny tiba-tiba berteriak. Wajahnya seketika memerah karena marah dan malu.
“Intinya, Neng Fanny harus merelakan kami menanamkan benih ke dalam tubuh Neng Fanny”, kata Pak Kades, datar. Seketika itu pula emosi Fanny, didorong oleh rasa malu dan muak, langsung meledak.
“Tidak.. aku tidak mau!”, Fanny membentak marah sambil menuding. “Dasar tua bangka tidak tahu diri! Keluar kalian! Busuk kalian semua!”

Anehnya dibentak-bentak dan dicaci maki seperti itu tidak membuat ketujuh orang tua itu marah. Reaksi mereka justru berkebalikan. Mereka malah tertawa, seolah baru saja melihat sebuah pertunjukan lawak yang sangat lucu.
“Kalau Neng Fanny tidak mau ya tidak apa-apa”, Pak Kades tersenyum sinis. “Tapi saya tidak menjamin keselamatan Neng Fanny dan rekan-rekan Neng Fanny kalau nantinya warga menjadi marah dan berbuat kekerasan pada Neng Fanny.”
Fanny terperanjat mendengar ucapan Pak Kades. Kata-kata itu seperti vonis mati baginya yang langsung merontokkan ketegarannya. Seketika Fanny langsung terduduk lemas seolah tubuhnya tidak bertulang lagi.
“Jadi bagaimana Neng Fanny?”, Tanya Pak Kades. “Semuanya terserah Neng Fanny lho..”, ujar Pak Kades datar, nyaris tanpa ekspresi.
Fanny terdiam mendengar ucapan itu, rasa marah, malu dan jijik bercampur menjadi satu. Fanny tidak bisa membayangkan wanita yang terhormat seperti dirinya dijebak dan disudutkan dalam nasib yang sangat mengerikan bagi wanita. Dirinya tidak rela dicemari oleh orang-orang seperti mereka, tapi pada saat yang sama Fanny tahu dirinya tidak berdaya sama sekali. Dia sendirian di tempat ini, tidak ada satupun yang bisa menolongnya sekarang karena seluruh penduduk berada dalam satu pihak dengan ketujuh pemuka desa. Fanny berpikir keras mencari jalan keluar, tapi tampaknya semua buntu. Dia bisa saja melarikan diri, tapi mau lari kemana? Dia juga tidak tahu apa-apa tentang lingkungan di sekeliling desa yang sangat terisolir itu. Dan akhirnya Fanny mengambil keputusan.
“Baiklah Pak.. saya bersedia..”, Fanny menjawab lirih. Tanpa sadar sebutir air mata mengalir membasahi pipinya yang putih mulus.
Ketujuh pemuka desa itu bergumam puas penuh kemenangan seolah baru saja memenangkan hadiah yang sangat besar nilainya.
“Kalau begitu Mulai hari ini sampai nanti bulan purnama penuh Neng Fanny akan tinggal di tempat yang sudah kami sediakan.”, kata Pak Kades dengan nada suara yang ditekan, berusaha terdengar wajar untuk menyembunyikan kegembiraannya.

Kemudian Fanny dibawa oleh ketujuh pemuka desa ke sebuah rumah adat di tepi hutan pinggiran desa,. Di rumah yang cukup mewah itu sudah disediakan berbagai fasilitas lengkap. Fanny diperlakukan bagai seorang ratu.sampai malam purnama penuh tiba. Dan pada malam yang sudah ditunggu-tunggu itu, Fanny dimandikan dengan air kembang yang sangat harum, tubuhnya dilulur sempurna sehingga kulitnya makin terlihat putih. Fanny juga didandani dengan bermacam perhiasan. Pergelangan tangannya dihiasi gelang emas sementara lehernya juga dilingkari kalung emas, pada dahinya terjuntai tiara emas yang dihiasi permata berwarna-warni. Akan tetapi pakaian yang dipakai Fanny sangat tidak masuk akal. Dia hanya memakai sehelai kain merah dan tipis yang diikat melingkari dadanya untuk menutupi payudaranya. Kain itu terlalu kecil dan terlalu tipis untuk bisa disebut penutup dada sehingga payudaranya yang putih terlihat menonjol sementara puting payudaranya terbayang dengan sangat jelas. Di pinggangnya terlilit kain yang dikencangkan dengan ikat pinggang emas, tapi meskipun kain itu menjuntai sampai mata kaki, kain itu terbuat Dari bahan yang sangat tipis dan tembus pandang sehingga memperlihatkan pinggul dan selangkangan Fanny yang hanya ditutupi oleh celana dalam model g-string berwarna merah. Dengan begitu pantatnya yang padat seperti tidak tertutup oleh apapun.

Fanny kemudian dibawa menuju ke sebuah pendopo besar, sebuah ruangan yang hanya terdiri dari atap dan tiang-tiang besar penyangga tanpa dinding. Pendopo itu cukup besar, hampir mirip dengan aula. Tidak ada apa-apa di pendopo itu, kecuali sebuah ranjang besar berlapis kain ungu terang dengan keharuman yang luar biasa memabukkan asap berbau kemenyan wangi yang berasal dari anglo tanah yang dipasang di keempat penjuru ranjang. Ketujuh pemuka desa yang menjemput Fanny sekarang sudah berada di situ, mereka berdiri mengelilingi ranjang dengan masing masing memakai pakaian seperti jubah berwarna putih putih.

Fanny terkesiap saat melihat ketujuh pemuka desa itu, tapi dia lebih kaget saat melihat ke arah luar pendopo, di situ sudah berkumpul hampir seluruh penduduk desa, dan kesemuanya adalah pria, semuanya bertelanjang dada, hanya memakai celana kolor panjang diikat oleh sabuk kulit besar. Fanny baru sadar kalau upacara Dewi Kesuburan hanya dihadiri oleh kaum pria. Sesaat Fanny merasakan tubuhnya menjadi kebas, membayangkan kejadian yang akan menimpanya. Fanny memejamkan mata dan menggeleng mencoba untuk mengusir ketakutannya, tapi dia tidak bisa. Kengerian luar biasa begitu kuat mencengkeramnya laksana tangan iblis yang menari-nari menghimpit seluruh tubuhnya.
Belum lagi sadar dari cengkeraman kengerian, salah satu pemuka desa menuntun Fanny untuk maju menghadapi seluruh penduduk yang hadir. Wajah-wajah mereka menampakkan gairah yang ganjil ditimpa cahaya purnama. Penerangan obor dan lampu minyak di sekelilingnya membuat siluet mengerikan, seolah sepasukan hantu yang bergerak merayap mendekati dirinya. Sementara itu Ki Wongso yang Fanny kemudian tahu adalah dukun desa mulai beranjak berdiri di sampingnya.
Wahai penduduk desa, Ki Wongso berteriak lantang, membuat penduduk desa serentak menatap ke arahnya.
“Malam ini adalah malam purnama ke lima, dimana malam ini adalah saat Dewi Kesuburan turun ke bumi.”, kata Ki Wongso masih dengan lantang. “Karena itulah malam ini, kupersembahkan gadis ini bagi Sang Dewi.”
Serentak penduduk desa berteriak lantang.
“Terimalah persembahan kami!”
Teriakan itu diucapkan berulang berkali-kali dan menggema di segala penjuru. Suaranya bersahutan dan terdengar mengerikan. Fanny seperti mendengar lagu kematian yang dinyanyikan untuknya. Sementara itu Ki Wongso terlihat berkomat-kamit sambil menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Suaranya seperti lebah berdengung.Sementara terlihat Amar yang dikenal sebagai tangan kanan sang dukun maju sambil membawa sebuah bokor tembaga.
Di dalam bokor itu terdapat perlambang dari apa yang harus kami tanam tahun ini. kata Ki Wongso. Setiap perlambang juga melambangkan salah satu dari kami. Dan sekarang tugas Neng Fanny untuk menentukan perlambang apa yang keluar tahun ini.

Fanny yang sudah dicekam kengerian hanya berdiri di tempatnya. Kengerian yang menyelimutinya membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Ki Wongso yang tidak sabar mendorong punggung Fanny dan memaksa tangan Fanny untuk mengambil benda di dalam bokor. Fanny dengan keterpaksaan yang luar biasa, mengambil benda yang terbuat dari kepinga tembaga dari dalam bokor. Fanny tidak tahu apa artinya benda itu, dia bahkan tidak berani melihatnya. Ki Wongso kemudian mengambil perlambang itu dari tangan Fanny.
“Tujuh..”, Ki Wongso mendesis sambil menyeringai. “Sebuah pertanda yang sangat baik.”, katanya, disambut tawa seluruh pemuka desa.
“Neng Fanny telah memilih tujuh, itu berarti ketujuh pemimpin desalah yang akan menanamkan benih di tubuh sang dewi.”
Fanny terkesiap pucat mendengar ucapan Ki Wongso.
“Tidak Pak.. tidak mungkin..”, Fanny mulai menangis, ucapan itu berarti dirinya harus merelakan dirinya disetubuhi oleh ketujuh pemuka desa itu secara sekaligus.
“Jangan Pak.. saya tidak mau..”, Fanny tersedak sambil terisak tubuhnya serasa mati dengan vonis yang baru saja diterimanya, dia merasa diperlakukan lebih rendah dari pelacur yang paling hina. Dan entah mendapat keberanian dari mana, tiba-tiba Fanny berontak dan berusaha lari.
“Tangkap dia!”, perintah Ki Wongso. Amar yang paling dekat dengan Fanny, dengan kesigapan seperti seekor harimau, merendahkan badannya sambil kakinya terjulur mengait pergelangan kaki Fanny. Fanny langsung terjungkal dan tertelungkup di lantai tanah. Serentak tiga orang langsung menagkapnya dan menelikung tangannya kec belakang.
“Lepaskan!”, Fanny berteriak-teriak sambil meronta-ronta mencoba membebaskan diri, tapi dia hanya seorang wanita, menghadapi tiga orang pria yang menangkapnya jelas dirinya tidak mampu berbuat banyak.
“Percuma Neng lari. Kami pasti dengan mudah bisa menangkap Neng Fanny lagi.”, kata Ki Wongso kalem dengan wajah menyeringai di hadapan Fanny. Fanny dengan wajah basah oleh air mata hanya menggeleng ketakutan.Ki Wongso kemudian menjulurkan tangannya dan menekan bagian belakang lehernya dengan satu pijatan kuat. Seperti ada satu aliran listrik mengalir dari tangan Ki Wongso menyengat lehernya. Sesaat kemudian Fanny merasa tubuhnya seperti lemas tanpa daya. Karena itulah dia tidak berontak lagi saat dirinya ditarik dan dibawa ke atas ranjang. Di atas ranjang Fanny merasakan tubuhnya seolah begitu ringan seperti melayang. apakah itu pengaruh pijatan Ki Wongso di lehernya ataukah karena bau kemenyan yang begitu kental, Fanny tidak tahu, yang jelas Fanny sekarang seperti tidak punya daya apa-apa. Seolah dirinya sudah siap diperlakukan apa saja oleh siapa saja.

“Upacara segera dimulai..”, kata Ki Wongso ada para penduduk. Serentak semua yang hadir di situ berdiri mendekat dan membentuk lingkaran besar yang berpusat pada ranjang tempat Fanny terbaring, sehingga apapun yang dilakukan di atas ranjang itu, semua penduduk akan bisa menyaksikannya dengan jelas. Mereka lantas melihat Ki Wongso berdiri di samping ranjang. Direbahkannya tubuh Fanny dengan posisi terlentang di atas ranjang lalu diaturnya posisi tangan dan kaki Fanny sehingga membuka ke samping seperti burung yang merentangkan sayapnya. Lalu perlahan dilepaskannya kain tipis yang melilit di pinggang Fanny sehingga hanya tersisa penutup dada dan celana dalem merah yang melekat di tubuh Fanny.
Kemudian tangan Ki Wongso mulai menari-nari di atas tubuh Fanny yang mulus itu, dan dengan satu kali sentakan, kain yang menutupi payudara Fanny langsung terlepas, membuat payudara Fanny yang liat, putih dan mulus langsung mencuat telanjang, diiringai suara tertahan para penduduk yang menyaksikannya. Kemudian tangan Ki Wongso mulai menari di bagian pinggul Fanny. Perlahan ditariknya pinggiran celana dalam Fanny, lalu celana dalam itu ditariknya sampai lepas dari selangkangan Fanny dan akhirnya terlepas dari tubuhnya. Fanny sekarang terbaring dalam keadaaan telanjang bulat di atas ranjang, menjadi bahan tontonan penduduk dan pemuka desa.

Kemudian Ki Wongso menyuruh empat orang memegangi kaki dan tangan Fanny dan merentangkannya ke samping sehingga tubuh bugil Fanny membentuk huruf X. Melihat tubuh mulus dan telanjang itu terentang tanpa daya, Ki Wongso mulai melepaskan jubah putihnya, hingga hanya tersisa celana kolor saja. Dia lalu menaiki ranjang dan berlutut di depan Fanny.
“Ck-ck-ck… benar-benar tubuh yang sempurna, putih mulus tanpa cacat”, ujar Ki Wongso, kemudian Ki Wongso mulai mendekatkan tubuhnya pada tubuh Fanny. Semakin pria itu mendekat semakin kencang pula jantung Fanny berdebar, wajahnya memerah menahan malu sambil menggigit bibir bawah.
“Ohh.. ini payudara terindah yang pernah Bapak lihat, Bapak pegang dikit ya.”, pinta Ki Wongso sambil menaruh tangannya di payudaranya.
“Ahh…”, Fanny mendesis merasakan perasaan aneh karena belaian pada payudaranya, jari-jari pria itu juga memencet putingnya sehingga seperti bulu kuduknya berdiri semua.
“Eengghh..!”, desisnya lebih keras ketika tangan Ki Wongso mulai meremas payudaranya. Ditekan-tekannya sepasang payudara mulus itu sambil sesekali membetot payudara itu dengan lembut. Hal itu membuat Fanny mendesah kecil, tubuhnya mendadak menegang, seperti ada sengatan listrik dari tangan Ki Wongso setiap kali tangan itu menyentuh payudaranya. Ki Wongso kemudian mulai menjilati puting payudara Fanny dengan lidahnya. Ujung lidahnya kadang menyentil-nyentil ujung puting payudara itu, sesekali Ki Wongso mengulum dan mengenyot payudara Fanny, sehingga orang tua itu terlihat seperti bayi yang sedang disusui oleh ibunya.

Bersambung . . . . .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s