Malapetaka KKN – Nafsu sekretraris desa – 2

Tubuh Alya kembali lemas dengan nafas terengah-engah, sensasi orgasmenya benar-benar membuat tubuhnya seperti melayang di angkasa. Melihat itu Pak Sarta makin yakin kalau Alya sudah sepenuhnya ada di dalam genggamannya. Maka dia mulai membuka pakaiannya sampai telanjang, dn penisnya yang sedari tadi memang sudah menegang sekarang mengacung begitu sangar di hadapan Alya. Perlahan Pak Sarta mulai menindih tubuh mulus Alya yang basah olah keringat. Aroma parfum mahal yang dipakai oleh Alya membuat nafsu Pak Sarta makin menggelora. Perlahan diciumnya bibir Alya dengan lembut beberapa kali, lalu dipeluknya tubuh mulus itu sambil berusaha mendesakkan penisnya di kemaluan Alya.
Oohhh….. Alya merintih menahan nyeri saat penis besar itu menyeruak ke dalam kemaluannya yang sempit, demikian juga Pak Sarta meringis menahan sakit merasakan penisnya tergesek dinding vagina Alya. Dengan beberapa kali gerakan tarik dorong yang keras maupun lembut, penis itu akhirnya terbenam seluruhnya di dalam vagina Alya. Mata Alya sudah basah oleh air mata, tangisan yang disebabkan rasa putus asa, nyeri, dan ketidakberdayaannya dalam pelukan seorang pria tua.
Ohh.. masuk juga akhirnya.. Pak Sarta mendengus lega. Gila, tempiknya Neng Alya seret banget lho..
Lalu Pak Sarta mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, mula-mula pelan, tapi setelah beberapa saat setelah dirasakannya vagina Alya terbiasa menampung penisnya, gerakan Pak Sarta makin teratur, Vagina Alya yang masih sempit mulai licin dan lancar meskipun masih sangat menjepit. Pak Sarta melakukan persetubuhan dengan gerakan yang liar, kadang pelan dan lembut, kadang kasar dan sangat cepat seperti dikejar setan. Gerakan-gerakan liar itu membuat Alya makin tersapu oleh sensasi liar di dalam tubuhnya. Setelah mengalami orgasme, desakan seksualnya menjadi makin liar mambuatnya terlihat sangat menikmati persetubuhannya dengan Pak Sarta.
Setelah hampir sepuluh menit mereka bersatu, Alya tidak tahan lagi, dorongan nafsu seksualnya sudah mangalahkan akal sehatnya, diapun mengerang dan mendesah seirama gerakan penis Pak Sarta yang menggenjot vaginanya.
“AAAAhhhhhh..”, Alya mengerang keras, dia kembali mengalami orgasme, meskipun tidak sehebat yang pertama, tapi cukup kuat untuk membuat vaginanya berdenyut kencang. Pak Sarta merasa penisnya seperti dicengkeram tangan baja yang membetotnya seperti mau dicopot dari badannya. Sensasi jepitan vagina Alya yang begitu kuat membuatnya tidak tahan lagi.
AAAAhhh mau keluar nih, aaaahhhhh Bapak mau keluar nih..” erang Pak Sarta kuat-kuat, dijambaknya rambut Alya, lalu dengan satu dorongan terakhir yang membuat penisnya membenam total di dalam vagina Alya, Pak Sarta melepaskan orgasmenya, menyemburkan sperma yang begitu banyak ke dalam rahim Alya.
Tubuh-tubuh telanjang itu terkulai lemas saling bertumpuk, menciptakan pemandangan yang sangat menggairahkan dimana sosok Alya yang putih mulus dan bagitu ramping ditindih oleh tubuh gendut dan hitam Pak Sarta.
Setelah puas mereguk kenikmatan birahi dari tubuh Alya yang sexy itu, Pak Sarta kemudian bangkit dari ranjang. Diliriknya tubuh telanjang Alya yang terikat dan tergolek tanpa daya di ranjang. Pak Sarta tertegun sambil sekaligus senang ketika dia melihat bercak darah di sekitar selangkangan Alya. Berarti Alya memang benar-benar masih perawan sebelum diperkosa olehnya. Karena itulah Pak Sarta kemudian mencium kening Alya sambil berujar, Terima kasih Neng sudi memberikan keperawanannya sama Bapak.
Alya hanya bisa menangis mendengarnya, kesadarannya perlahan pulih, membuat dirinya merasa diperlakukan secara hina. Tapi dalam keadaan seperti ini, Alya benar-benar tidak sanggup melawan keinginan Pak Sarta. Pak Sartapun yakin kalau Alya tidak akan melawannya lagi, karena itulah dia memutuskan untuk melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Alya. Alya sendiri tidak berbuat apa-apa meskipun dirinya sudah tidak terikat. Dia hanya bisa tergolek di atas ranjang, menunggu nasib selanjutnya.
Melihat tubuh yang mulus dan telanjang itu tidak berdaya di atas ranjang rupanya membuat birahi Pak Sarta kembali meninggi. Masih dalam keadaan bugil, Pak Sarta mengocok-ngocok penisnya sendiri, lalu dia kembali menaiki ranjang. Ditariknya tangan Alya sehingga Alya sekarang tersimpuh di ranjang. Tiba-tiba Pak Sarta menyorongkan penisnya yang setengah berdiri ke wajah Alya.
Sekarang Neng Alya tolong emut punya Bapak dong.. kata Pak Sarta sambil menyodorkan penisnya yang hitam ke wajah Alya dengan gaya santai.
Alya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi jijik melihat penis yang legam itu seperti pistol yang menodong wajahnya.
Jangan takut Neng, entar juga enak kok.. kata Pak Sarta masih dengan gaya santai, seolah menyodorkan permen kepada anak kecil. Alya kembali meneteskan air mata menggeleng, hal itu membuat Pak Sarta tidak sabar, ditariknya rambut Alya sampai wajahnya mendongak, lalu digesek-gesekkannya penisnya ke wajah Alya. Alya pelan-pelan menurut, dibukanya mulut mungilnya dangan enggan, lalu seperti menelan permen besar, penis Pak Sarta meluncur masuk ke mulutnya. Terasa ada cairan sedikit pada ujungnya, kemudian dihisap dan dikulumnya penis itu dengan lembut, sesekali Alya mengocok-ngocok penis itu dengan tangannya juga, lama kelamaan Alya mulai terbiasa dengan penis Pak Sarta dan mulai dapat menyesuaikan diri, Alya menjilati samping-sampingnya hingga ke buah pelirnya, Alya bahkan memainkan ludahnya sedikit di penis itu, kemudian Alya kembali memasukkan kepala penis itu ke mulutnya. Pak Sarta mendesah merasakan kehangatan mulut Alya, sentuhan lidahnya memberi sensasi nikmat padanya.
Uuhhhgitu Neng, enakmmmm ! gumamnya sambil memegangi kepala Alya dan memaju-mundurkan pinggulnya. Alya merasakan wajahnya makin tertekan ke selangkangan dan buah pelir Pak Sarta yang berbulu lebat itu, penis di dalam mulutnya semakin berdenyut-denyut dan sesekali menyentuh kerongkongannya.
Pak Sarta yang merasakan kehangatan dari bibir dan mulut Alya makin meledak, lalu dengan menahan kepala Alya diselangkangannya menggunakan kedua tangannya, dengan kasarnya Pak Sarta menggerakkan pinggulnya maju mundur sehingga penis itu menggenjot mulut Alya.
Aggh..aggh… . suara Alya terdengar tersedak oleh penis Pak Sarta. Tangan Alya berusaha menahan pinggul Pak Sarta agar tidak bisa memompa penis besar itu ke dalam mulutnya. Tapi usaha Alya sia-sia saja, Pak Sarta dengan kuat mencengkeram kepala Alya dan mennyodok-nyodokkan penisnya dengan kasar membuat Alya menggelepar berusaha untuk bernafas dengan baik
Sekitar sepuluh menit lamanya dia harus melakukan hal itu, sampai Pak Sarta menekan kepalanya sambil melenguh panjang. dirasakan sebelumnya. Pak Sarta masih terus menggenjotnya selama beberapa menit ke depan, dan akhirnya dia pun mencabut penisnya lalu buru-buru mendekati wajah Alya.
Arrghhh… Oohhhh… Pak Sarta kembali melenguh bagai banteng terluka, seketika Aly amerasakan wajahnya tersiram oleh cairan hangat yang kental dan lengket dan berbau. Pak Sarta menyemprotkan spermanya ke wajah Alya dengan deras. Cairan putih kental pun berceceran membasahi wajah dan rambut gadis itu.
Ohhhh.. lenguh Pak Sarta yang kali ini benar-benar puas telah berhasil melepaskan keinginan seksualnya pada gadis cantik itu. Pak Sarta akhirnya terkapar di ranjang karena kelelahan, dibiarkannya Alya yang terdiam sambil menangis.
Akhirnya, dengan tubuh gemetar kerena sakit dan kelelahan, Alya mencoba bangkit dari ranjang,dia mencoba mencari pakaiannya, tapi satu-satunya yang ada hanyalah bajunya yang longgar, itupun dalam keadaan berantakan, celana panjangnya hilang entah kemana sementara pakaian dalamnya sudah menjadi cabikan-cabikan kain yang tidak mungkin bisa dipakai lagi. Dengan tertatih-tatih Alya menuju ke kamar mandi, di sana dia membersihkan bekas-bekas perkosaan yang baru saja dialaminya. Tangisnya kemudian meledak di kamar mandi. Dirinya merasa sangat hina, apalagi membayangkan kalau dia hamil akibat perkosaan ini. Alya tidak bisa membayangkan dirinya yang anak orang kaya dihamili oleh orang yang status sosialnya teramat jauh darinya. Alya lalu mencoba keluar dari rumah Pak Sarta, tapi seluruh jalan keluar sudah dikunci oleh Pak Sarta. Akhirnya Alya hanya bisa duduk di sudut ruang tengah sambil memeluk lututnya, kemudian karena kelelahan dia akhirnya tertidur.
Tapi belum lama Alya tertidur, sebuah usapan halus pada rambutnya membuat Alya terbangun, dilihatnya Pak Sarta yang hanya bercelana kolor berdiri di depannya. Alya merapatkan tubuhnya ke tembok batu dingin di belakangnya dengan ekspresi ketakutan.
Nggak apa-apa Neng, Bapak Cuma mau ngajak Neng Alya makan, kata Pak Sarta lembut, entah kelembutannya benar-benar tulus atau sekedar pura-pura. Alya yang memang lapar akhirnya menurut dibimbing Pak Sarta ke meja makan. Makanan yang hangat terhidang di atas meja membuat perut Alya mendadak berkeruyuk. Diapun mulai makan tanpa mempedulikan apa-apa.
Seperti ada tenaga baru yang mengaliri tubuh Alya yang lemas setelah persetubuhannya dengan Pak Sarta begitu dia makan. Entah apa bumbu yang dimasukkan oleh Pak Sarta di dalam makanan yang mereka makan, rasanya seperti ada yang menyalakan api unggun di dalam tubuh Alya membuat tubuh Alya menjadi berkeringat. Api besar di dalam tubuh Alya makin menari-nari dengan liar saat Pak Sarta tanpa disadari sudah berdiri di belakangnya dan memeluknya dari belakang. Alya mendesah saat tangan Pak Sarta meluncur masuk ke balik bajunya melalui kerah lebarnya dan bergerak meraba payudaranya yang tidak memakai BH.
Ahh… Alya mendesah pelan, Pak Sarta melancarkan ciuman-ciuman ringan di pipi dan leher Alya membuatnya menggeliat. Tanpa sadar Alya memalingkan wajahnya hingga berhadapan dengan wajah Pak Sarta yang hitam. Pak Sarta tanpa ragu mulai mencium bibir Alya dengan lembut. Bibir tebal itu kemudian mengulum dan melumat bibir Alya yang lembut. Perlahan Alya mulai merespon dengan ciuman lembut pula. Untuk beberapa menit sepertinya kedua orang berbeda jenis itu seperti saling gigit.
Ohh… jangan Pak.. Alya mendesah saat Pak Sarta mulai membuka baju longgarnya sambil terus menciumi bibirnya yang merah merekah itu.
nggak apa-apa Neng.. kata Pak Sarta lirih di telinga Alya . Hembusan nafasnya di telinga Alya membuat tubuh Alya meremang. Alya kembali terperangkap oleh permainan Pak Sarta yang membuat gairahnya kembali bangkit, hingga dia tidak menyadari baju yang dipakainya sudah berhasil ditanggalkan oleh Pak Sarta sehingga dia sekarang kembali telanjang bulat. Pak Sarta kini memposisikan dirinya menghadapi Alya sambil mengagumi keindahan payudara Alya yang memang lembut itu. Perlahan diremasnya payudara itu, lalu diciuminya dengan lembut sambil putingnya dijilat-jilat dan dikulum. Sesekali Pak Sarta menggigit puting payudara Alya dengan bibirnya membuat Alya tersentak menahan desakan birahinya.
Ohhh… Alya merintih, dia memegangi sandaran kursi yang didudukinya dengan kuat saat tubuhnya mulai menegang. Pak Sarta makin gencar membelai dan meremas-remas payudara mulus Alya mulai dari gerakan paling lembut sampai gerakan kasar seperti orang meremas pakaian basah. Cara Pak Sarta meremas payudara Alya membuat Alya makin tidak berdaya menahan desakan birahinya, apalagi kemudian Pak Sarta mulai meraba bagian selangkangan Alya, sentuhan-sentuhan jari Pak Sarta pada klitoris Alya membuat birahinya makin cepat terbangkitkan. Alya tidak tahan lagi, dia merasa tubuhnya mau pecah dihimpit desakan orgasme. Akhirnya hal itu terulang lagi. Tubuh Alya menegang dengan begitu kuat melengkung ke belakang sampai kepalanya terjuntai ke belakang.
Ohhhkhhh… Aaahhh… kembali Alya mengerang kuat, dan vaginanya kembali mengucurkan cairan, orgasmenya meledak tanpa tertahankan. Beberapa detik tubuh Alya mengejang sebelum akhirnya terkulai lemas.
Orgasmenya itu membuat Alya tak bersuara ketika Pak Sarta membungkukan tubuhnya ke meja yang masih ada sisa makanan di sana, hingga sekarang mulai pinggang hingga kepala Alya terbaring menelungkup di atas meja makan, semetara kakinya masih di lantai. Alya tidak sekalipun melihat ke arah Pak Sarta, dia hanya berdiri, dengan setengah tubuhnya terbaring di meja, buah dadanya menjadi bantalan bagi tubuh Alya di meja, menempel pada meja kayu itu.
“Pantatnya Neng benar-benar indah..”, kata Pak Sarta sambil meraba dua bulatan pantat Alya. Alya memang punya pantat yang sempurna, apalagi kalau dibandingkan dengan tubuhnya yang ramping, bentuknya sempurna, penuh, lembut, halus dan tanpa noda. Pak Sarta meraba, meremas dan menarik pantat Alya, membuat Alya melonjak di meja. Pak Sarta segera melucuti celana kolornya sehingga dia kembali bugil, sambil terus memandang pantat Alya yang luar biasa itu. Penis Pak Sarta langsung mengacung keluar, dan Pak Sarta siap memasukkan semuanya ke tubuh Alya. Alya mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang sehingga di bisa melihat Pak Sarta telah siap kembali untuk menyetubuhi dirinya , wajah Alya berkilat karena air mata. Perlahan Pak Sarta membuka kedua belah paha mulus Alya lebar-lebar, lalu diarahkannya penisnya ke liang vagina Alya.
Wajah Alya mengernyit dan gemetar, erangan keluar dari mulutnya pada saat penis besar itu meluncur masuk tanpa kesulitan ke dalam liang vaginanya. Pak Sarta juga mengerang, setelah itu terdengar suara daging bergesekan dengan daging, Bibir Alya bergetar, air mata mengalir lagi dari matanya ketika terdengar suara tubuh berbenturan dengan tubuh yang lain, terus berulang-ulang.
Pak Sarta mendesakkan penisnya kuat-kuat dengan genjotan bertenaga, gerakannya tidak teratur membuat Alya terbanting-banting di meja, erangannya makin terasa memelaskan, tapi erangan itu justru membuat Pak Sarta makin liar menyetubuhinya.
Gimana Neng, suka? tanya Pak Sarta ditengah-tengah usahanya menyetubuhi Alya. Alya hanya mengangguk sambil memandang Pak Sarta dengan tatapan sayu dengan wajah bersimbah air mata.
Alya semakin larut dengan permainan Pak Sekdea pada vaginanya. Pak Sekded memompa vagina Alya dengan cepat kemudian melambat dan cepat lagi, begitu seterusnya. Hal ini membuat Alya semakin mendesah-desah kenikmatan, lelehan cairan kewanitaannya sudah keluar dan membasahi kedua paha bagian dalam Alya. Saking larutnya dalam permainan, dengan tidak sadar Alya yang menggerakan pinggulnya apabila Pak Sarta dengan sengaja menghentikan genjotan panisnya pada vagina Alya.
15 menit diperlakukan demikian, tiba-tiba badan Alya mengejang keras, kakinya kembali menjinjit, tangannya memegang keras tepian meja, matanya terpejam erat dan mulutnya sedikit terbuka menandakan Alya semakin mendekati orgasme.
Aaaaaaaaaahhhhhhh… … teriak Alya keras sambil mengeraskan pegangannya. Alya mengalami orgasme yang sangat tinggi, kedua pahanya dirapatkan dan badannya mengejang keras untuk beberapa menit. Untuk beberapa saat, Pak Sarta tetap membiarkan penisnya terbenam di vagina Alya. Alya yang masih merapatkan kedua pahanya tersebut, terlihat sekali menikmati orgasme yang baru dialaminya. Meski begitu Pak Sarta belum puas. Segera dia menarik penisnya dari jepitan vagina Alya, lalu dengan gerakan cepat tubuh Alya dibalikkan dan diangkat ke atas meja sampai terlentang, sementara kakinya masih menjuntai ke bawah. Sekarang di atas meja tersebut tubuh gadis berkulit putih itu terbaring telanjang bulat, payudaranya mencuat hingga membentuk gundukan mulus. Perlahan Pak Sarta memeluk kedua paha gadis itu dan menyampirkannya di pundak kiri kanannya. Dan sekali lagi Pak Sarta mendorongkan penisnya ke liang vagina Alya, membuat Alya meringis.
Kemudian kembali Pak Sarta membuat gerakan maju mundur mendesakkan penisnya ke dalam vagian gadis cantik itu. Alya yang sudah dipengaruhi orgasmenya tidak kuasa melawan, dia bahkan menikmati genjotan penis Pak Sarta di dalam vaginanya.
“Ooohh…… akkhh… ooohhh…….” Alya mendesah-desah sambil mengejang, tangannya mencengkeram keras pingir-pinggir meja, desahannya perlahan mulai taratur seirama dengan genjotan Pak Sarta pada vaginanya. Pak Sarta terus memompa batang kemaluannya masuk ke dalam liang vagina Alya. Pak Sarta kemudian melebarkan kaki Alya sehingga berbentuk huruf V, dan terus memompa masuk dengan buas sambil tangannya meremas-remas payudara Alya. Alya makin terangsang dengan perlakuan Pak Sarta yang liar itu, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan sambil menggeliat-geliat penuh kenikmatan. Kocokan demi kocokan terus menghujam vaginanya sampai sampai terlihat seperti ada busa yang mengalir keluar dari vaginanya. Cairan vagina Alya terkocok sampai tuntas dan mengucur membanjiri selangkangannya. Dengan penuh nafsu Pak Sarta mempercepat genjotannya pada vagian Alya, sesekali dia kembali menghentikan pompaannya, dan secara refleks kembali Alya ganti menggoyangkan pantatnya maju mundur. Hal itu terjadi berkali-kali, bahkan saat Pak Sarta mendorong tubuh Alya hingga batang kemaluannya keluar dari liang kemaluan Alya. Secara refleks diluar kemauan Alya, dia menggerakkan pantatnya sendiri.
Setelah hampir duapuluh menit, tampak tubuh Alya berkelonjotan dan menegang, kedua kakinya mengacung lurus dengan otot paha dan betisnya mengejang, jari-jari kakinya menutup, dan nafas Alya menjadi tak teratur sambil terus merintih keras dan panjang,
“Ohhh… Akkkhhh… Ooohhh…!” Alya mengerang keras membuat Pak Sarta semakin mempercepat gerakannya hingga akhirnya membuat Alya merintih panjang, seluruh tubuh Alya kembali menegang dan menggelinjang selama beberapa detik dan Pak Sarta menyadari Alya sedang mengalami orgasme dahsyat dan kenikmatan luar biasa. Bersamaan dengan itu Pak Sarta juga menekan keras penisnya ke dalam vagina Alya.
Ahhhhhhhhhhhgghhhhh.. Pak Sarta mengerang keras sambil memuncratkan spermanya ke dalam vagina Alya. Sesaat tubuhnya juga menegang sebelum akhirnya melemas kembali.
Pak Sarta yang masih berada di atas tubuh Alya sesaat menekan penisnya dalam-dalam di vagina Alya menikmati cengkeraman vagina Alya sampai tuntas. Dipandanginya wajah cantik yang basah oleh keringat dan air mata itu. Lalu perlahan Pak Sarta kembali mencium pipi dan bibir Alya dengan kecupan-kecupan lembut, seolah ingin mengucapkan terima kasih atas kenikmatan seksual yang diberikan oleh Alya kepadanya. Lalu perlahan dia menarik tubuh Alya berdiri di dalam dekapannya. Dipeluknya tubuh putih mulus itu dengan erat sambil sesekali bibirnya menciumi bibir Alya seolah tidak pernah puas merasakan sentuhan bibir merah Alya. Pak Sarta kemudian membawa Alya masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar itulah selama semalam suntuk Pak Sarta menuntaskan nafsu seksualnya pada Alya. Gadis kota yang cantik itu dibuatnya tidak lebih dari seorang budak seksual yang harus selalu bersedia melakukan persetubuhan dengannya. Entah sudah berapa kali Alya dipaksa melakukan hubungan seksual oleh Pak Sarta. Alya tidak bisa menghitung lagi, tubuh dan pikirannya sudah terlalu tersiksa untuk berpikir.

Tamat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s