BLAI Berikan Kelonggaran Pada Klub

Jumlah kontestan kompetisi Divisi I Liga Indonesia XVI-2010 jika seluruhnya berpartisipasi adalah 66 tim. Namun, hanya 52 tim yang dipastikan berlaga pada 12 grup putaran pertama yang sudah diselenggarakan sejak Minggu (26/9) lalu dan diproyeksikan berakhir awal pekan kedua Oktober mendatang. Padahal, Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) PSSI sudah memberikan banyak kelonggaran dengan tujuan agar seluruh peserta dapat ambil bagian.

Diantara kelonggaran yang diberikan adalah dengan “mengulur” batas waktu atau deadline pendaftaran peserta hingga finalisasi pada pertemuan teknik yang digelar sehari sebelum putaran pertama dilangsungkan, yakni tanggal 25 September. Batas waktu yang diberikan ini sudah melenceng jauh dari limit yang ditetapkan semula, seperti yang dituangkan sejak awal dalam Manual Liga Divisi I XVI-2010.

Dalam perkembangannya kemudian, ada dinamika yang membuat BLAI harus melakukan beberapa penyesuaian karena usulan dari tim-tim peserta. Bisa dipahami jika penyesuaian tersebut menyebabkan adanya perubahan dari beberapa ketentuan yang sebelumnya sudah dituangkan dalam panduan atau manual Divisi I.

Pada pertemuan antar manajer tim peserta yang digelar 7 Agustus silam di Istora Senayan, BLAI, misalnya, mengakomodir usulan tim-tim peserta agar batas waktu pendaftaran pemain bisa diundurkan waktunya hingga 1 September dari limit semula pada pertengahan Agustus. Untuk batas akhir pendaftaran tim peserta, tetap 20 Agustus.

“Dalam logika berpikir kita, seharusnya semenjak dikemukakan pada Kongres di Bandung bahwa BLAI akan memutar kompetisi Divisi I ini mulai 26 September, tim-tim peserta sudah harus mempersiapkan diri,” ujar Ketua BLAI PSSI Iwan Budianto, Rabu (29/9) sore di Senayan.

Iwan Budianto yang didampingi jajaran pengurus teras BLAI lainnya, Sekretaris BLAI Syauqi Suratno, Direktur Bisnis Petri Octavianus dan Direktur Kompetisi Supriyanto, pada kesempatan itu menjelaskan langkah-langkah yang dilakukan BLAI dalam mendukung pergelaran seluruh kompetisinya terlaksana dengan baik. Misalnya, dengan melaksanakan lokakarya atau workshop sebanyak lima kali. Yakni, lokakarya pengelolaan pertandingan dan manajemen klub tingkat dasar, baik untuk tim dari Divisi I dan Divisi II.

Memang belum seluruh partisipan kompetisi Divisi I dan Divisi II yang sudah mengikuti dua lokakarya tersebut, namun BLAI tetap mewajibkan mereka untuk mengikutinya. Salah satu persyaratan untuk menjadi tuan rumah dalam setiap home-tournament kompetisi Divisi I dan Divisi II adalah sudah memiliki sertifikat pengelolaan pertandingan dan manajemen klub tingkat dasar tersebut.

Kedepannya, menurut Iwan Budianto, adanya keseragaman dalam cara pandang BLAI dan seluruh peserta kompetisi liga amatir dalam mengelola dan menjalankan kompetisi-kompetisi amatir ini secara baik dan profesional.

“Namanya boleh amatir tetapi pengelolaannya tentu jangan amatiran,” tegas Iwan Budianto.

Mantan manajer Persik Kediri ini meminta masyarakat pecinta sepakbola nasional memahami berbagai permasalahan yang menghadang BLAI dalam mengelola atau mengolah kompetisi liga amatir ini, terutama juga karena BLAI harus memikirkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi tim-tim peserta, sehingga BLAI harus berbesar hati untuk bersikap kompromistis demi mengakomodir kesulitan-kesulitan klub-klub tersebut.

Untuk menentukan kepastian jumlah peserta, contohnya, BLAI mau tidak mau menjadikan pertemuan teknik yang digelar pada 25 September sebagai batas akhir yang sudah sangat bersifat final. Dari pertemuan teknik tersebut, diketahui kemudian adanya enam tim yang tidak berpartipasi sehingga jumlah kontestan kompetisi Divisi I tahun 2010 ini hanya 52 tim.

Keenam tim yang tidak berpartisipasi tersebut adalah Persepsi Sibolga (zone Sumatera/grup III), Persibat Batang (zone Jawaq/grup VI), Persiko Kota Baru (zone Kalimantan/grup VII), Persis Solo (zone Jawa/grup IX), Persikota Tidore Kepulaian/Tikep (zone Maluku/grup XI), dan Persitoli Tolikara (zone Papua/grup XII). Pertemuan teknik ini dilangsungkan secara serentak di 11 kota yang menjadi tuan rumah putaran pertama, kecuali di grup I yang babak penyisihannya belum dimulai, karena diantara tim peserta tidak ada yang siap menjadi tuan rumah, sehingga diambil-alih oleh BLAI.

Untuk alternatif tuan rumah bersama grup I tersebut, yang harus digelar di tempat netral, BLAI memikrkan kemungkinan dilangsungkan di Pekanbaru, Riau, atau DKI Jakarta.

Sebagai konsekuensi dari kegagalan berpartusipasinya keenam tim tersebut, terjadi pengurangan jumlah peserta pada beberapa grup yang secara signifikan tentunya berpengaruh terhadap kemudahan yang diperoleh peserta lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s